Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

CERITA MOTIVASI KAKEK PENJUAL AMPLOP


Sebuah kisah sahabat saya yang baik hati...

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: 

“bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu. 

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Saudaraku, "Di antara sekian jenis kemiskinan", kata KH. Rahmat Abdullah, "yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam". Walaupun kondisi fisiknya tak sempurna, walaupun pendidikannya rendah, walaupun usianya tak lagi muda.. Izzah (kehormatan) dirinya dalam bekerja mencari penghasilan yang halal harus kita hargai daripada yang meminta-minta. Walaupun tidak salah apabila kita memberikan sedekah kepada siapapun yang kita lihat ketika beliau orang-orang tersebut membutuhkan uluran pertolongan kita. 

Semoga menginspirasi kebaikan
Kisah di ambil dari  dari Fitriana Nugraha Al-Fatih

Baca Selengkapnya>>

Cerita Motivasi Management dan Perubahan

WHO'S MOVED MY CHEESE? CARITA MOTIVASI TUR INSPIRATIF KANGGO BARAYA SUNDA


Didalam cerita ”Who moved my cheese?” ada empat tokoh yaitu :

Sniff – yang mencium serta mengantisipasi perubahan.
Scurry – yang segera bergegas mengambil tindakan.
Hem – yang marah terhadap perubahan dan menganggapnya tidak adil.
Haw – yang pada awalnya enggan berubah tetapi pada akhirnya menyadari bahwa harus ikut perubahan yang terjadi disekelilingnya
Sniff dan Scurry adalah dua ekor tikus dan Hem dan Haw adalah kurcaci sebesar tikus dan mempunyai sikap mirip manusia zaman sekarang. Sniff, Scurry, Hem, dan Haw yang mencari cheese di Maze yaitu suatu labirin yang gelap dan sering menyesatkan. Sniff, si tukang endus dan Scurry, si tukang lacak mulai berlari cepat menyusuri lorong. Dengan menggunakan instingnya, mereka memilih metode trial and error.

Sering kali mereka tersesat ke jalan yang salah, tapi mereka terus mencoba mencari jalan yang lain. Sedangkan Hem dan Haw dengan kemampuan berpikir dan belajarnya juga berusaha mencari cheese yang lezat. Akhirnya keempatnya menemukan tumpukan cheese di suatu tempat bernama Cheese Station C. Mereka sangat bersuka cita dan mulai menikmati kelezatan Cheese tersebut sepuasnya. Setelah itu, setiap hari mereka rutin mengunjungi Cheese Station C.

Sniff dan Scurry selalu bangun pagi menuju tempat itu, melepas sepatu, mengikat keduanya dan menggantungkan di lehernya, dan sebelum menikmati cheese, mereka memeriksa tempat itu apabila ada perubahan. Hem dan Haw mula-mula juga selalu bangun pagi namun lama kelamaan karena mereka sudah tahu jalan menuju cheese itu, mereka mulai bangun siang dan berjalan santai. Hem dan Haw merasa bahagia dan puas dengan tempatnya yang baru sehingga mereka menjadi arogan.

Setiap hari mereka berempat menghabiskan waktu mereka di dalam Labirin (sederet koridor serta ruangan, yang beberapa di antaranya memuat cheese, ada juga yang berupa pojok2 gelap serta gang-gang buntu). Kedua tikus (Sniff dan Scurry) menggunakan metode coba-coba yang sederhana dalam menemukan cheese mereka. Sniff akan mengendus-endus di mana kira-kira terdapat cheese ini dengan menggunakan daya penciumannya yang hebat. Scurry akan segera bergegas mencari-cari (suka bertindak tanpa pikir panjang). Suatu hari mereka menemukan cheese (keju) pilihan mereka di salah satu koridor di ”Cheese Station C”. Disana mereka menemukan banyak sekali persediaan cheese (makanan).

Setiap hari kedua tikus rajin mengendus, menggaruk, serta bolak balik di sekitar Cheese Station C, memerika apakah ada perubahan dibandingan dengan kemaren, lalu menggerogoti cheese yang ada. Suatu pagi mereka tiba di Cheese Station C dan menemukan bahwa Cheese nya tidak ada lagi. Kedua tikus tidak heran, karena mereka telah memperhatikan bahwa dari hari ke hari persediaan cheese telah menipis setiap harinya. Secara naluri mereka tahu apa yang harus mereka perbuat yaitu segera mencari cheese di tempat yang lain.

Ketika Hem dan Haw (kedua kurcaci) tiba di Cheese Station C mereka sangat terkejut. ”Apa! Mana Cheese nya? Siapa sih yang memindahkan Cheeseku? Kembalikan Cheese nya dong?” Hem berseru sambil marah-marah. Haw juga tidak bisa percaya kalau cheese mereka telah hilang. Kedua kurcaci ini tidak tahu berbuat apa. Mereka berdiri saja, tidak bisa bergerak seperti patung. Haw menyarankan, ”mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasinya dan pergi saja mencari Cheese baru”. Tapi Hem tidak setuju, ”pokoknya aku akan menyeledikinya hingga tuntas”.

Sementara itu kedua tikus sudah jauh dalam perjalanan mereka. Mereka tidak memikirkan apapun selain mencari cheese baru. Mereka tidak menemukan cheese selama beberapa waktu tapi karena usaha yang terus-menerus akhirnya mereka tiba di ”Cheese Station N”. Mereka kegirangan karena menemukan persediaan Cheese Baru yang banyak.

Sementara itu kedua kurcaci setiap hari datang ke Cheese Station C namun tidak pernah menemukan lagi cheese disana. Haw mulai menyadari bahwa semakin lama mereka tinggal di situasi tanpa cheese, semakin parah jadinya. Haw tidak senang membayangkan harus bekerja keras mencari cheese baru. Dia takut tersesat dan tidak tahu arah dalam mencari cheese baru. Hem berkata kepada Haw , ”Kita tunggu saja hingga seseorang kembalikan Cheese nya?”

Mereka berpikir seseorang telah mencuri Cheese mereka. Akhirnya Haw menyadari bahwa tidak mungkin bertahan terus dengan keadaan mereka dan mulai memutuskan untuk mencari cheese baru. Pikirannya dipenuhi kekuatiran bagaimana harus menemukan cheese di tempat lain. Tetapi mau tidak mau dia harus mencari cheese baru di tempat lain. Akhirnya Haw dengan susah payah bisa menemukan “Cheese Station N” dan bergabung dengan Sniff dan Scurry yang telah terlebih dahulu berada di sana menikmati banyak cheese baru.

Keempat tokoh ini mencoba mewakili suatu bagian yang sederhana dan kompleks dari diri kita dengan tidak memandang umur, jenis kelamin, ras ataupun kebangsaan. Sniff digambarkan sebagai seekor tikus yang dapat ‘membaui’ perubahan dengan segera. Temannya, Scurry, sesuai dengan namanya selalu sigap dalam mengambil suatu tindakan. Sedang kurcaci Hem memiliki sifat selalu menolak dan melawan perubahan yang terjadi sehingga timbul rasa takut yang membawanya ke arah sesuatu yang lebih buruk.

Sedang Haw mencoba beradaptasi setiap saat sehingga sesuatu yang lebih baik siap digapainya. Keempatnya hidup di suatu Maze yang menggambarkan tempat kehidupan di luar kita yang penuh kegelapan dan ketidakpastian untuk mencari cheese. Maze bisa berarti organisasi tempat kita bekerja, komunitas tempat kita bersosialisasi, bahkan bisa berarti keluarga. Sedangkan Cheese disini merupakan metafora dari apa yang kita inginkan dalam hidup, bisa berupa pekerjaan, persahabatan, cinta, uang, kemerdekaan, kesehatan, kedamaian, dan lain-lain.

Who Move My Cheese? adalah cerita tentang perubahan yang terjadi pada suatu tempat dengan lorong-lorong yang ruwet di mana empat karakter mencari “cheese” – cheese ini adalah metafora tentang apa yang kita inginkan dalam hidup: pekerjaan, suatu hubungan, uang, tumah besar, kebebasan, kesehatan, pengakuan, kedamaian hati, atau sekedar aktivitas sederhana seperti lari pagi atau main golf, misalnya. Setiap kita boleh punya bayangan tentang apa itu cheese yang kita anggap patut kita dapat dan bisa membuat kita bahagia.

Empat karakter dalam cerita tersebut menggambarkan bagian dari kita yang sederhana dan yang kompleks. Si Tikus: Sniff dan Scurry dan Si Littlepeople: Hem dan Haw. Kadang kita bertindak seperti Sniff yang segera mencium adanya perubahan. Bisa jadi kita bisa seperti Scurry yang bisa segera bertindak begitu tahu ada perubahan. Barangkali kita lebih sering seperti Hem yang menyangkal dan menolak perubahan karena takut perubahan itu akan membawanya kepada situasi yang lebih buruk. Atau mungkin kita seperti Haw yang belajar beradaptasi karena melihat bahwa perubahan justru bisa membawanya kepada sesuatu yang jauh lebih baik!

Sebenarnya apa yang membuat kita takut untuk berubah? Ketakutan, pada porsi yang tepat, baik juga bagi kita, bisa membuat kita waspada, dan melakukan tindakan tertentu agar kondisi tidak menjadi lebih buruk. Tetapi terlalu ketakutan sehingga kita tidak berani melakukan apa pun tentu tidak baik. Jadi seperti Haw, pertanyaannya ketika kita ragu dan ketakutan untuk bertindak adalah ”What would you do if you weren’t afraid?”

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Pertama, A Gathering. Tentang reuni mantan teman sekelas yang saling menceritakan bagaimana mereka menghadapi perubahan dalam hidup. Kedua, The Story of Who Moved My Cheese?, yang merupakan inti buku ini. Pada bagian ini dikisahkan bagaimana dua tikus menghadapi perubahan dengan lebih baik daripada dua littlepeople. Kedua tikus melihat masalah dengan sederhana sedangkan kedua littlepeople dengan otak yang lebih kompleks dan emosi melihat segala sesuatunya lebih rumit. Dan ini bukan karena tikus lebih pintar.  Ketiga, A Discussion. Bagian ini menceritakan bagaimana orang-orang mendiskusikan apa makna cerita bagi mereka dan bagaimana mereka menerapkannya dalam pekerjaan dan hidup mereka.

Ini adalah gambaran dari kehidupan kita semua. Banyak perubahan terus menerus terjadi disekeliling kita. Ada yang pandai membaca perubahan ada juga yang tidak suka dengan perubahan. Mau tidak mau kita juga akhirnya harus ikut dengan perubahan tersebut. Kita harus waspada terhadap lingkungan kita, waspadalah terhadap adanya perubahan. Tidak usah takut dengan perubahan tetapi ikutlah berubah menyesuaikan diri dengan lingkungan itu.

Replika kehidupan yang diwakili 2 ekor tikus dan 2 kurcaci itu cukup menggambarkan apa yang terjadi di kehidupan kita sebenarnya. Saat membaca perilaku Sniff, Scurry, Hem atau Haw kita dapat merasakan selama ini diri kita seperti karakter yang mana. Dan seolah kita dibawanya mengulang kembali apa yang telah  kita lakukan saat kehidupan kita mengalami banyak perubahan. Bagaimana kita bersikap saat sesuatu yang berharga pernah lepas dari genggaman kita.

Who Moved My Cheese? melalui 4 karakter tokohnya sangat berhasil membawa angin segar dalam memberi pencerahan bagaimana cara mengantisipasi perubahan, beradaptasi dengan perubahan secara cepat, menikmati perubahan dan selalu siap dengan perubahan yang terjadi secara cepat dan tak terelakkan. Namun bagaimanapun, semuanya kembali ke diri kita sendiri. Kita mau menjadi Sniff, Scurry, Hem atau Haw? Yang jelas, kehidupan selalu cepat berubah. Semua hal disekeliling kita bahkan apa yang sudah kita miliki bisa berubah sewaktu-waktu. Hanya perubahan itu sendiri yang tidak akan berubah.

Keputusan tersulit adalah berpindah dari kondisi yang “aman dan nyaman” ke situasi yang “entah bagaimana”. Bahkan jika sebenarnya kita tahu persis kondisi yang kita kira “aman dan nyaman” itu sudah berubah. Orang bilang bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Tapi kalimat itu justru seringkali tidak dianggap sebagai peringatan untuk siap berubah. Lebih sering kita mengingat kalimat itu sebagai alasan untuk diam dan tidak melakukan sesuatu. Memaklumi keadaan. “Habis mau bagaimana lagi? Apa boleh buat…!” Lalu kita menghibur diri dengan berharap bahwa nasib baik akan kembali lagi. Roda berputar lagi… Atau lebih parah, setelah terkejut karena perubahan yang tidak kita kehendaki, kita meratap dan bersikukuh mengatakan bahwa seharusnya kondisinya tidak demikian.

Beberapa pembelajaran yang dapat di ambil dari buku ini adalah :


  1. Jangan pernah takut menghadapi suatu perubahan dalam hidup.
  2. Jika Anda Tidak Mau Melakukan Perubahaan, Pasti Anda Akan Musnah atau Akan terjebak di kondisi Seperti Itu Terus.
  3. Satu hal yg sangat penting dari perubahaan ”Lebih baik Terlambat dari pada tidak sama sekali”.
  4. Perubahan akan terjadi, baik anda mngharapkan atau tidak. Perubahan akan mengejutkan apabila kita tidak menghendakinya & tidak menyadarinya.
  5. Saat anda berhenti dari rasa takut, pasti anda akan merasakan lebih baik.
  6. Dengan menaruh perhtian pada perubahan kecil sejak awal akan membntu anda beradapasi dengan perubahan yang lebih besar di masa yang akan datang.
  7. Cara yang cepat untuk berubah adalah dapat mentertawakan kebodohan diri sendiri, sehingga kita dapat merelakannya & cepat² bergerak maju.

Sumber : go blog



BOBODORAN SUNDA EUUYYY
Baca Selengkapnya>>

Cerita Motivasi Dua Tukang Sol


CARITA MOTIVASI TUR INSPIRATIF KANGGO BARAYA SUNDA


Mang Udin, kitu pisan manéhna digeroan, saurang padagang jasa ngahadean  sapatu anu mindeng disebut tukang sol. Isuk-isuk  geus ngalengkahkeun  sukuna ninggalkeun anak sarta pamajikanana anu ngaharepkeun, engké soré poé mang Udin mawa duit pikeun meuli sangu sarta saeutik lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan bari ceuceuleuweungan nawarkeun jasana. Nepi ka tengah poé, kakara hiji urang anu ngagunakeun jasana. Éta ogé ngan perbaikan leutik.

Beuteung mimitian keroncongan. Ngan cai téh bekel ti imah anu ngaganjel beuteungna. Daék beuli dahar, duitna teu mahi. Ngan ngaharepkeun bisa order badag ku kituna bisa mawa duit ka imah. Beuteungna sorangan henteu manéhna hiraukan.

Di tengah keputusasaan, manéhna paamprok jeung saurang tukan sol séjénna. Beungeutna cukup berseri. “Pasti, si Akang ieu geus meunangkeun duit loba nich.” pikir mang Udin. Maranéhanana berpapasan sarta silih menyapa. Pamustunganana ngandeg pikeun ngobrol.

“Kumaha jeung hasil poé ieu bang? Jigana laris nich?” kecap mang Udin mitembeyan percakapan.

“Alhamdulillah. Aya sawatara urang ngabenerkeun sapatu.” kecap tukang sol anu saterusna dipikanyaho ngaranna Bang Soleh.

“Kuring kakara hiji bang, éta ogé ngan benerin jahitan.” kecap mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, éta kudu disyukuri.”

“Daék disyukuri kumaha, teu cukup jieun beuli béas ogé.” kecap mang Udin saeutik kaluman.

“Malahan kalayan bersyukur, nikmat urang baris ditambah.” kecap bang Soleh bari tetep kéom.

“Emang kitu bang?” tanya mang Udin, anu sabenerna manéhna geus weruh kudu loba bersyukur.

“Insya Alloh. Hayu urang ka Masjid tiheula, sakeudeung deui adzan dzuhur.” kecap bang Soleh bari mengangkat pikulannya.

Mang udin saeutik kikuk, alatan manéhna henteu kungsi “nyimpang” ka tempat solat.

“Ayolah, urang ménta ka Alloh sangkan urang dibéré rezeki anu barakah.”

Pamustunganana, mang Udin nuturkeun bang Soleh nuju hiji masjid pangdeukeutna. Bang Soleh kitu hapal tata lokasi masjid, jigana mindeng ka masjid kasebut.

Sanggeus solat, bang Soleh ngajak mang Udin ka warung sangu pikeun dahar beurang. Tangtu waé mang Udin bingung, sabab manéhna henteu boga duit. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, urang dahar tiheula. Kuring anu traktir.”

Pamustunganana mang Udin milu dahar di warung Tegal pangdeukeutna. Sanggeus dahar, mang Udin ngomong,

“Kuring henteu ngeunah nich. Engké duit pikeun pawon akang ngurangan dipaké traktir kuring.”

“Tenang waé, Alloh baris ngagantina. Komo leuwih badag sarta barakah.” kecap bang Soleh tetep kéom.

“Akang yakin?”

“Insya Alloh.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Lamun kitu, kuring daék solat deui, bersyukur, sarta daék méré ka batur.” kecap mang Udin pinuh harap.

“Insya Alloh. Alloh baris nulungan urang.” Kecap bang Soleh bari bersalaman sarta ngedalkeun salam pikeun berpisah.

Isuk poéna, maranéhanana papanggih di tempat anu sarua. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Naon béja mang Udin?”

“Alhamdulillah, alus. Baruk enya, kuring geus nuturkeun bongbolongan Akang, tapi naha koq pangasilan kuring kalahka turun? Poé ieu, hiji ogé pakasaban tacan kuring bisa.” kecap mang Udin satengah menyalahkan.

Bang Soleh ngan kéom. Saterusna ngomong,

“Masih aya hal anu perlu mang Udin pigawé pikeun meunang rezeki barakah.”

“Baruk enya, naon éta?” tanya mang Udin geremet.

“Tawekal, ikhlas, sarta sabar.” kecap bang Soleh bari saterusna ngajak ka Masjid sarta mentraktir dahar beurang deui.

Isuk poéna, maranéhanana papanggih deui, tapi di tempat anu béda. Mang Udin anu berhari-hari ieu sepi order ngomong satengah menyalahkan deui,

“Wah, kuring beuki parna. Kamari teu bisa order, ayeuna ogé tacan. Naon bongbolongan akang henteu cocog pikeun kuring?”

“Lain henteu, cocog. Meureun kayakinan mang Udin tacan kuat luhur pertolongan Alloh. Coba renungkan, sajauh mana mang Udin yakin yén Alloh baris nulungan urang?” écés bang Soleh bari tetep kéom.

Mang Udin cukup ngajenghok ngadéngé guaran kasebut. Manéhna ngaku yén haténa saeutik ragu. Manéhna “ngan” coba-coba ngajalankeun naon anu disebutkeun ku bang Soleh.

“Kumaha sangkan yakin bang?” kecap mang Udin saeutik anca ampir kadéngé.

Kutan, bang Soleh geus menebak, kamana arah pembicaraan.

“Kuring daék nanya, naha urang janjian pikeun papanggih poé ieu, di dieu?” tanya bang Soleh.

“Henteu.”

“Tapi kenyataana urang papanggih, komo 3 poé berturut. Mang Udin bisa rezeki bisa dahar babarengan kuring. Lamun lain Alloh anu mengatur, saha deui?” tuluy bang Soleh. Mang Udin kasampak mikir dina. Bang Soleh nuluykeun, “Meureun, geus loba petunjuk ti Alloh, ngan waé urang arang atawa kurang nengetan petunjuk kasebut. Urang henteu nyangka Alloh baris nulungan urang, alatan urang sabenerna henteu ngaharepkeun. Urang henteu ngaharepkeun, alatan urang henteu yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Jigana mimitian paham. Saterusna mimitian kéom.

“OK dech, kuring paham. Salila ieu kuring akui kuring memang ragu. Ayeuna kuring yakin. Alloh sabenerna geus membimbing kuring, kuring sorangan anu henteu nempo sarta henteu mensyukurinya. Hatur nuhun akang.” kecap mang Udin, panonna kasampak berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah ka Alloh. Sakeudeung deui dzuhur, urang ka Masjid yuk. Urang ménta ampun sarta bersyukur ka Alloh.”

Maranéhanana ogé mengangkat pikulan sarta mimitian leumpang nuju masjid pangdeukeutna bari dipirig rasa optimist yén hirup baris leuwih alus.




BOBODORAN SUNDA EUUYYY
Baca Selengkapnya>>